Saya adalah seorang bangsa Eropa, tepatnya seorang pemimpin dari negara tercinta saya, Belanda. Mengapa saya terlahir sebagai seorang ‘Belanda’? Entahlah, itu takdir tuhan, dan saya membanggakannya. Maka petanyaan yang tepat adalah; Mengapa saya bangga menjadi seorang ‘Belanda’?. Karena Belanda adalah negara tang paling hebat. Paling kuat. Tak terkalahkan. Semua tunduk kepada kamu. Soal berdagang, kamilah ahlinya. Meraup keuntungan yang banyak. Saya merasa negara saya begitu sempurna. Tak ada yang kurang. Hanya satu hal, yaitu kurangnya rempah. Ya, itu saja kekurangan kami. Rempah adalah salah satu kebutuhan bangsa Eropa yang tidak kami millii. Kalau saja kami punya rempah, pasti negara lain akan menyerbu kami. Karena itulah, kamu mencari rempah.

JUNI 1596

Saat ini, saya dan sebagian dari rakyat saya sedang melat. Rumornya, terdapat suatu negara menakjubkan yang memiliki beraneka ragam rempah, suatu benda ajaib dengan citarasa unik yang dapat meghangatan tubuh kami. Kami arungi pantai barat Afrika, Tanjug Harapan, Samudra Hindia, Selat Sunda, hingga akhirnya sampailah kami di daerah bernama ‘Banten’. Akankah itu tanah keajaiban tersebut?

Kami turun dari kapal-kapal kami. Terbentang tanah luas yang ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan. Apakah ini tanah keajaiban tersebut?

Mengapa tidak kita gunakan saja tanah ini untuk kebutuhan kita?

Tiba tiba banyak orang orang yang bukan merupakan rombongan kami. Nampaknya, mereka adalah sang pribumi. Tapi lihatlah, betapa baiknya mereka terhadap kami. Menyambut kami dengan ramahnya.

Mengapa tidk kita gunakan saja orang orang ini untuk membantu pekerjaan kita?

Saya selaku pemimpin dari rombongan saya  segera bercengkrama dengan pimpinan dari pribumi tersebut. Mereka senang akan kehadiran kami. Rupanya, mereka ingin memimjam kapan kami, untuk mnyerang Palembang –katanya. Melihat tampang mereka, saya merasa tidak yakin. Tidak, Sekali kali tidak. Untuk apa saya meminjamkan kaal kapal saya pada mereka? Bagaimana bila rusak? Tenggelam? Karam? Memangnya mereka bisa menggunakan kapal saya?

Entah apa yang mereka pikirikan, kami diserang dan diusir dari daerah tersebut. Ah, yasudah. Kami juga tak butuh mereka. Yang penting, kini kami tahu dimana letak ‘tanah Keajaiban’. Sayangnya, semakin banyak yang mengetahui keberadaan tanah tersebut. Di kampung halaman, kami  pun berdiskusi tentang banyak hal. Bagaimana cara kita mendapatkan rempah rempah yang kita inginkan. Kami pun menyepakati untuk membentuk suatu kongsi dagang dengan nama VOC. Dengan adanya kongsi dagang ini, kita bisa memonopoli semua berdagangan yang dilakukan di tanah tesebut.

Kami juga membentuk sebuah kebijakan agar kami dapat berkuasa disana. Kebijakan tersebut berisi seperti ini:

  1. Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan monopoli perdagangan.

    b. Melaksanakan politik devide et impera (memecah dan menguasai) dalam rangka untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.

    c. Untuk memperkuat kedudukannya, perlu mengangkat seorang Gubernur Jenderal.

    d. Melaksanakan sepenuhnya hak Oktroi yang diberikan pemerintah Belanda.

    e. Membangun pangkalan/markas VOC yang semula di Banten dan Ambon, dipindah ke Jayakarta (Batavia).

    f. Melaksanakan pelayaran Hongi (Hongi tochten).

    g. Adanya hak ekstirpasi, yaitu hak untuk membinasakan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan.

    h. Adanya verplichte leverantie (penyerahan wajib) dan Prianger stelsel (sistem Priangan).

Kami kembali ke tanah asing tersebut. Disanalah kami memulai strategi kami. Dengan mengsosialisasikan kebijakan baru kami, rakyat pribumi tanah tersebut harus setuju. Karena ila tidak, kami tidak segan segan untuk menggunakan cara kekerasan. Mereka pun memulai apa yang seharusnya mereka lakukan. Kami membentuk benteng benteng pula, agar tak ada yang bisa meyerang kami.

Berbulan-bulan, para pribumi menjalankan apa yang kami perintahkan. Saya mendapatkan apa yang saya butuhkan tanpa harus bekerja keras. Saya semakin kaya. Betapa bangganya saya, tinggal duduk di atas sofa beludru sambil mengipaskan uang. Kini, saya leih mudah dalam mendapatkan apa yang saya dan rakyat saya btuhkan. Dapat saya lihat berapa menderitanya para pribumi terhadap kebijakan kami. Tapi, siapa peduli? Toh saya dapat apa yang saya inginkan, mereka pula sudah sepakat dengan kebijakan yang saya berikan. Tak ada yang salah dari apa yang saya lakukan. Kini saya puas. Saya bangga terhadap diri saya sendiri

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s