Jepang?

Jepang? Apa itu Jepang? Yang saya ketahui, Jepang adalah sebuah Negara berukuran kecil, dengan rakyatnya berotak cemerlang. Mereka memiliki kemajuan teknologi yang amat cepat, memiliki banyak transportasi modern yang mengalahkan Negara lainnya. Di sisi lain, Jepang juga memiliki beragam bahasa dan budaya yang diminati banyak orang, termasuk rakyat Indonesia. Adapula pendidikan di Jepang sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan Indonesia, sehingga banyak sekali pelajar Indonesia yang berminat belajar disana.

Indonesia dahulu merupakan tempat ‘persinggahan’ Jepang. Mungkin tak seberapa lama persinggahan Belanda, namun orang bilang, dalam waktu yang lebih singkat itu mereka melakukan hal yang lebih kejam dibandingkan Belanda. Mereka membuat seruntutan kebijakan, yaitu.

Pertama di bidang militer. Karena Jepang menyadari perlunya bantuan penuduk setempat dalam rangka mpmpertahankan kedudukannya di Asia, pemerintah militer Jepang mulai mengorganisir barisan pemuda. Untuk apa barisan pemuda? Barisan pemuda ini adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar bisa mempertahankan Indonesia dari pasukan Sekutu. Terbagi ke beberapa jenis golongan, yaitu Seinendan (Barisan Pemuda), Fujinkai (barisan wanita), dan Keibodan (barisan pembantu polisi), Gakotai (barisan pelajar), Heiho (Pasukan pembantu), Peta (Pembela tanah air), Jawa Hokokai (Kebaktian rakyat Jawa), dan Barisan Pelopor.

Kedua, di bidang pendidikan. Dahulu sebelum keberadaan Jepang di Indonesia, ada 2 jenis sekolah yaitu Sekolah Rakyat 3 tahun dan 6  tahun yang di kelola oleh badan swasta, peninggalan Belanda. Semenjak Jepang datang, Jepang mengambul alih sekolah swasta ini dan guru gurunya digaji oleh Jepang dan menghilangkan diskriminasi yang diterapkan oleh Belanda. Mereka pun membentuk jenjang dalam pendidikan yaitu SD 6 tahun, SMP 3 tahun dan SMA 3 tahun sebagaimana diterapkan di Negara Jepang sendiri. Pelajaran atau kurikulum utamanya juga mengikuti sistem di Jepang, tetapi disesuaikan untuk kepentinfan perang. Siswa wajib ikut latihan dasar kemiliteran. Selain itu, Jepang mewajibkan seluruh siswa Indonesia untuk belajar bahasa Jepang. Adapula perlakuan murid terhadap guru adalah harus selali hormat kepada mereka.

Ketiga, pada bidang sosial-budaya. Terdapat sebuah kebijakan yaitu Romusha, dimana rakyat Indonesia harus menyerahkan hasil panennya berupa Padi ke Jepang secara paksa dan menyengsarakan rakyat. Akibatnya banyak rakyat Indonesia yang mendeita kelaparan, kesehatannya menurun, kemiskinan, dan keadaan sosial semakin buruk. Yang lebih parah lagi, rakyat terpaksa memakai baju yang terbuat dari karung goni. Hal ini menyebabkan penyakit kulit padda rakyat Indonesia dan angka kematian rakyat Indonesia semakin meningkat.

Terakhir, pada bidang ekonomi. Dalam memenuhi kebutuhan perang dan Industri, Jepang mengekpoitasi SDA Indonesia di bidang pertanian, perkebunan, bahan tambang, dan lain-lain. Mereka juga memonopoli seluruh perekonomian Indonesia. Hasil keuntungan dari ekspoitasi mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat dan kekurangan sandang dan pangan. Selain memeras hasil bumi Jepang juga mengerahkan tenaga rakyat, yang dilatarbelakangi oleh terdesaknya Jepang dalam perang dunia ke II melawan tentara sekutu,, Jepang hanya menyediakan makanan untuk prajurit Jepang sementara untuk prajurit Indonesia tidak diberikan apa apa.

Nah itulah kebijakan kebijakan Jepang dalam pendudukan Indonesia. Betapa mirisnya masa lalu Indonesia. Nah bagaimana dengan masa modern kini? Indonesia sudah tidak dibawah otoriter Jepang. Mampukan Indonesia bersaing dengan Indonesia di era modern ini? Menurut saya, tidak. Atau dalam bahasa lembutnya, belum. Indonesia masih berupa Negara berkembang sementara Jepang merupakan negar maju. Dari sisi individual, karakter rata rata rakyat Indonesia dan Jepang pun berbeda. Rakyat Jepang merupakan orang orang yang sangat disiplin, menghargai waktu, cerdas, dan terampil. Mereka gesit dalam kehidupan sehari-hari, membuat kehidupan mereka lebih dinamis dibandingkan rakyat Indonesia yang cendrung kurang disiplin, dan kurang menghargai waktu. Karakter ini memngaruhi pembangunan bangsa pula. Pandangan rakyat Jepang sudah jauh ke depan, sehingga mereka mampu membuat inovasi baru dalam teknologi sementara rakyat Indonesia masih terorentiasi ke masa kini, masih sibuk menyelesaikan masalah masalah Negara yang tak kunjung selsai. Rakyat Indonesia pula merupakan rakyat yang konsumtif, belum bisa menciptaka sesuatu sendiri. Dan masih banyak hal lain yang harus diperbaiki dari rakyat Indonesia.

Harapannya, Indonesia bisa meranjak setidaknya mendekati kemajuan Jepang, lalu akhirnya melampaui Jepang sehingga kita pantas untuk menyaingi negara maju tersebut. Semoga, Indonesia terus melangkah menjadi yang lebih baik, jangan sampai terjadi seperti apa yabg terjadi di masa lampau. Jadikan masa lampau itu sebagai pelajaran. Bangkitlah Indonesia! J

 

 

 

Advertisements

Jika Saya Menjadi K.H. Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy’ari adalah salah seorang tokoh penggerak bangsa. Saya ingin menjadi seperti dirinya. Beliau adalah tokoh yang memiliki ilmu agama yang sangat dalam, terbukti dari pesantren yang beliau buat, yaitu Pesantren Tebuireng yang sudah menghasilkan ribuan santri berkualitas. Beliau juga merupakan pendiri dari Nahdlatul Ulama. Dari sini, mengapa saya mengaguminya dan ingin menjadi sepertinya adalah karena selain beliau memiliki ilmu agama yang dalam, beliau juga memiliki kemampuan berorganisasi. Beliau mampu menyatukan berbagai pendapat para ulama dari yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya sehinga beliau bisa memiliki pola pikir yang tajam dan jauh.

Tak hanya itu, K.H. Hasyim Asy’ari pun sangat berpengaruh dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau sangat aktif membebaskan Indonesia dari serangan Belanda. Suatu ketika ia  diberikan bintang emas dan perak oleh Belanda tanda penghormatan, namun ia menolaknya. Ia juga menyuruh santri-santrinya untuk tidak mudah terlena akan godaan dunia, namun menjadikan Rasulullah saw. Sebagai teladan.

Nah, itulah apa yang saya kagumi dan megapa saya ingin menjadi seperti dirinya. Beliau adalah tokoh yang pintar ilmu dan agama, pintar berorganisasi, dan bijaksana. Lalu apa yang saya lakukan bila saya menjadi dirinya?

Pertama, setelah saya mendirikan pesantren Tebuireng, saya akan membuat santri-santri saya memiliki mental setidaknya seperti saya, yaitu pantang menyerah, baik dalam menghadapi penjajah ataupun dalam menuntut ilmu. Mengapa? Karena berdasarkan anak anak generasi sekarang, daya juang mereka masih rendah, dan minat untuk menuntut ilmu terutama ilmu agamanya sangatlah rendah. Bila saya menjadi K.H. Hasyim Asy’ari, akan saya tekankan pada santri-santriku untuk menjadi manusia yang pantang menyerah, agar anak anak di masa depan menjadi lebih baik dari anak-anak masa kini.

Kedua, karena saya pintar dalam berorganisasi, saya akan mengikuti banyak organisasi demi Indonesia. Menuangkan seluruh pikiranku, dan menambah para kalangan terpelajar agar Indonesia memiliki generasi yang gemilang, penuh dengan akal dan cerdas.

Ketiga, saya InsyaAllah saya memiliki akhlak yang mulia, saya kerap akan menjadi teladan bagi orang orang di sekitar saya, membawa mereka kearah jalan yang benar. Apalagi santri-santri saya, agar mereka kelak membentuk generasi berbudi luhur, shaleh dan shalehah.

Mungkin itulah alasan mengapa saya ingin menjadi K.H. Hasyim Asy’ari dan apa yang akan saya lakukan bila menjadi beliau. Sungguh besar dampak kehadirannya bagi Indonesia di masa kini. Semoga, Allah selalu merahmatinya. Aamiin.. 🙂Hasyim_Asy'ari

Jika Saya Seorang Belanda, Apa yang Akan Saya Lakukan di Indonesia?

Saya adalah seorang bangsa Eropa, tepatnya seorang pemimpin dari negara tercinta saya, Belanda. Mengapa saya terlahir sebagai seorang ‘Belanda’? Entahlah, itu takdir tuhan, dan saya membanggakannya. Maka petanyaan yang tepat adalah; Mengapa saya bangga menjadi seorang ‘Belanda’?. Karena Belanda adalah negara tang paling hebat. Paling kuat. Tak terkalahkan. Semua tunduk kepada kamu. Soal berdagang, kamilah ahlinya. Meraup keuntungan yang banyak. Saya merasa negara saya begitu sempurna. Tak ada yang kurang. Hanya satu hal, yaitu kurangnya rempah. Ya, itu saja kekurangan kami. Rempah adalah salah satu kebutuhan bangsa Eropa yang tidak kami millii. Kalau saja kami punya rempah, pasti negara lain akan menyerbu kami. Karena itulah, kamu mencari rempah.

JUNI 1596

Saat ini, saya dan sebagian dari rakyat saya sedang melat. Rumornya, terdapat suatu negara menakjubkan yang memiliki beraneka ragam rempah, suatu benda ajaib dengan citarasa unik yang dapat meghangatan tubuh kami. Kami arungi pantai barat Afrika, Tanjug Harapan, Samudra Hindia, Selat Sunda, hingga akhirnya sampailah kami di daerah bernama ‘Banten’. Akankah itu tanah keajaiban tersebut?

Kami turun dari kapal-kapal kami. Terbentang tanah luas yang ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan. Apakah ini tanah keajaiban tersebut?

Mengapa tidak kita gunakan saja tanah ini untuk kebutuhan kita?

Tiba tiba banyak orang orang yang bukan merupakan rombongan kami. Nampaknya, mereka adalah sang pribumi. Tapi lihatlah, betapa baiknya mereka terhadap kami. Menyambut kami dengan ramahnya.

Mengapa tidk kita gunakan saja orang orang ini untuk membantu pekerjaan kita?

Saya selaku pemimpin dari rombongan saya  segera bercengkrama dengan pimpinan dari pribumi tersebut. Mereka senang akan kehadiran kami. Rupanya, mereka ingin memimjam kapan kami, untuk mnyerang Palembang –katanya. Melihat tampang mereka, saya merasa tidak yakin. Tidak, Sekali kali tidak. Untuk apa saya meminjamkan kaal kapal saya pada mereka? Bagaimana bila rusak? Tenggelam? Karam? Memangnya mereka bisa menggunakan kapal saya?

Entah apa yang mereka pikirikan, kami diserang dan diusir dari daerah tersebut. Ah, yasudah. Kami juga tak butuh mereka. Yang penting, kini kami tahu dimana letak ‘tanah Keajaiban’. Sayangnya, semakin banyak yang mengetahui keberadaan tanah tersebut. Di kampung halaman, kami  pun berdiskusi tentang banyak hal. Bagaimana cara kita mendapatkan rempah rempah yang kita inginkan. Kami pun menyepakati untuk membentuk suatu kongsi dagang dengan nama VOC. Dengan adanya kongsi dagang ini, kita bisa memonopoli semua berdagangan yang dilakukan di tanah tesebut.

Kami juga membentuk sebuah kebijakan agar kami dapat berkuasa disana. Kebijakan tersebut berisi seperti ini:

  1. Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan monopoli perdagangan.

    b. Melaksanakan politik devide et impera (memecah dan menguasai) dalam rangka untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.

    c. Untuk memperkuat kedudukannya, perlu mengangkat seorang Gubernur Jenderal.

    d. Melaksanakan sepenuhnya hak Oktroi yang diberikan pemerintah Belanda.

    e. Membangun pangkalan/markas VOC yang semula di Banten dan Ambon, dipindah ke Jayakarta (Batavia).

    f. Melaksanakan pelayaran Hongi (Hongi tochten).

    g. Adanya hak ekstirpasi, yaitu hak untuk membinasakan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan.

    h. Adanya verplichte leverantie (penyerahan wajib) dan Prianger stelsel (sistem Priangan).

Kami kembali ke tanah asing tersebut. Disanalah kami memulai strategi kami. Dengan mengsosialisasikan kebijakan baru kami, rakyat pribumi tanah tersebut harus setuju. Karena ila tidak, kami tidak segan segan untuk menggunakan cara kekerasan. Mereka pun memulai apa yang seharusnya mereka lakukan. Kami membentuk benteng benteng pula, agar tak ada yang bisa meyerang kami.

Berbulan-bulan, para pribumi menjalankan apa yang kami perintahkan. Saya mendapatkan apa yang saya butuhkan tanpa harus bekerja keras. Saya semakin kaya. Betapa bangganya saya, tinggal duduk di atas sofa beludru sambil mengipaskan uang. Kini, saya leih mudah dalam mendapatkan apa yang saya dan rakyat saya btuhkan. Dapat saya lihat berapa menderitanya para pribumi terhadap kebijakan kami. Tapi, siapa peduli? Toh saya dapat apa yang saya inginkan, mereka pula sudah sepakat dengan kebijakan yang saya berikan. Tak ada yang salah dari apa yang saya lakukan. Kini saya puas. Saya bangga terhadap diri saya sendiri

 

Dampak para “Inlander” terhadap Indonesia

Untuk melahirkan Indonesia, butuh sebuah perjuangan yang amat sangat panjang. Dahulu, beratus tahun sebelum kita memijakkan kaki di tanah ini, ada sebuah bangsa yang menjelajahi Indonesia. Bangsa dari nun jauh disana, Bangsa Eropa. Banyak ‘kenangan’ yang mereka tinggalkan disini. Kenangan tersebut meninggalkan dampak tersendiri terhadap Indonesia. Apakah gerangan dampak tersebut? Simak berikut ini.

Pertama, VOC. Kongsi dagang milik negara Paman Sam ini mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia secara habis habisan. Bagaimana tidak, VOC yang hanya merupakan sebuah kongsi dagang  saja memiliki beberapa aturan ketat, yang membuat para masyarakat Indonesia harus sebegitu patuhnya terhadap VOC. Dampaknya, rakyat lebih fokus menanam tanaman kualitas ekspor, dibandingkan menggarap ladang atau sawah untuk tanaman lokal. Selain itu, rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja ekstra keras melebihi waktu yang ditentukan. Jatah tanah untuk tanaman ekspor pun melebihi seperlima dari seluruh lahan yang digarap. Yang lebih menyedihkan, apabila terdapat kelebihan hasil panan, tidak dikembalikan ke petani. Kegagalan panen pun menjadi tanggung jawab rakyat. Tapi ada dampak positifnya juga kok. Indonesia jadi lebih tau cara menanam berbagai jenis tanaman baru dan mengenal tanaman dengan kualitas ekspor.

Kedua adalah masa Perancis. Perancis berada di bawah kepemimpinan Herman Williams Daendels atau sering kita sebut Daendels. Di masa Daendels inilah, kita mengenal ‘Kerja Rodi’. Rakyat Indonesia dipaksa untuk membangun jalan oleh si gagah Daendels ini. Betapa berat tugas mereka dahulu ya? Namun karena dialah kini kita punya jalan jalan seperti Jalan Pantura, dan jalan Raya Pos di Bandung. Kalau tidak ada yang “memaksa” untuk membuat jalan jalan tersebut, pasti kita tak akan menemukan jalan jalan tersebut sekarang kan?

Selanjutnya, kita lanjut ke masa penjajahan Inggris. Inggris menguasai Indonesia dibawah pimpinan Thomas Stamford Raffles. Dia ini yang mengenalkan kita kepada sistem sewa tanah (Landrente). Rakyat atau para petani harus membayar pajak sebagai uang sewa, karena semua tanah dianggap milik negara. Memang terdengar memberatkan, namun terdapat banyak dampak positif yang kita dapatkan. Dampak positifnya terhadap Indonesia adalah terbentuknya susunan baru dalam pengadilan yang didasarkan pengadilan Inggris, Stamford menulis buku yang berjudul History of Java, menemukan bunga Rafflesia-arnoldii, dan merintis adanya Kebun Raya Bogor.

Terakhir adalah masa pemerintahan Van Den Bosch. Dampak positif yang kita dapatkan darinya adalah rakyat Indonesia mengenal teknik penanaman berbagai jenis tanaman baru dan tanaman dagang yang berpotensi ekspor. Namun ada juga dampak negatifnya, yaitu rakyat Indonesia mengalami kemiskinan dan penderitaan fisik maupun mental yang berkepanjangan, pertanian, khususnya padi, banyak mengalami gagal panen, kelaparan dan kematian banyak terjadi dimana-mana akibat gagal panen dan pemungutan pajak tambahan berupa beras, Indonesia mengalami penurunan jumlah penduduk dan sistem tanam paksa sangat memeras rakyat Indonesia.

Nah, itulah dampak dampak yang Indonesia dapatkan dari penjajahan bangsa Eropa. Oh iya, dari judul artikel ini, terdapat kata ‘Inlander’. Apakah itu? Inlander adalah sebutan para penjajah Eropa terhadap rakyat Indonesia, yang berarti “yang tidak punya rumah”, padahal Rakyat Indonesia lah yang menetap di Indonesia! Mereka dateng ke rumah orang, ngaku ngaku rumah sendiri, nyebut sang tuan rumah ‘Inlander’. Apa mereka ngga ngaca ya, sebenernya kan, mereka yang Inlander! 😀

Hikmah mempelajari perkembangan Islam di Indonesia

Setelah mempelajari perkembangan Islam di Indonesia, saya jadi tahu asal mula adanya agama Islam. Saya jadi tahu bagaimana islam dapat hadir di Indonesia, dan itulah asal mula dari agama yang saya peluk ini. Selain itu, saya mendapat banyak hikmah. Yang pertama adalah dari kerajaan Demak; dimana adanya bunuh membunuh dalam satu kerajaan padahal mereka terikat saudara. Mereka bukanlah musuh. Mereka saling bunuh membunuh hanya untuk memperebutkan tahta dan jabatan. Ini merupakan perbuatan yang tercela. Padahal, dalam surat Al Fath ayat 29 dikatakan bahwa kita berkasih sayang sesama muslim, dan keras terhadap kafir.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا


Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Yang kedua adalah dari kerajaan Mataram. Hikmah yang dapat saya ambil adalah dalam suatu pertarungan, lebih baik kita “kalah” dibandingkan “kabur” karena takut akan sang lawan yang kemungkinan terlihat lebih tangguh dari kita. Kita harus lawan rasa takut kita dan berani berjihad (di jalan Allah), karena walaupun kita kalah, derajat kita akan ditinggikan oleh Allah, sebagaimana dalam surat At-Taubah ayat 20:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ


 

orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Ya, jadi itulah hikmah yang dapat saya ambil dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Semoga, kita bisa belajar menjadi lebih baik di masa depan dari mempelajari masa lalu.

Hikmah mempelajari perkembangan Hindu Buddha di Indonesia

Setelah mempelajari perkembangan Hindu Buddha di Indonesia, saya jadi tahu asal mula adanya agama Hindu dan Buddha, beserta beberapa hikmah yang saya dapatkan.
Salah satunya, saya mengetahui adanya sistem kasta. Sistem Kasta membeda bedakan masyarakat berdasarkan status. Dari sistem kasta ini, hikmah yang dapat saya ambil adalah, manusia diciptakan oleh tuhan sama. Kita tidak boleh membedakan mereka berdasarkan status. Justru, Islam mengajarkan dalam Surat Al Hujurat : 13 yang membedakan manusia adalah ketaqwaannya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Selain itu, pada salah satu kerajaan yang saya pelajari yaitu kerajaan Sriwijaya, terjadinya banyak pembunuhan terhadap sesorang yang sebenarnya masih memiliki hubungan kerabat (keluarga) hanya karena berebutan kekuasan. Hikmah yang dapat saya ambil adalah, seharusnya kita sesama saudara, saling menyayangi dan menjaga hubungan. Dalam Islam, pada surat Al Hujurat : 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ


Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Ya, jadi itulah hikmah yang dapat saya ambil dari sejarah perkembangan Hindu dan Buddha. Semoga, kita bisa belajar menjadi lebih baik di masa depan dari mempelajari masa lalu.

Lalu, apa yang diharapkan dari mempelajari Sejarah Indonesia?

Hmm,  dengan belajar SI, saya berharap saya bisa tahu kejadian di masa lalu, asal mula terbentuknya sesuatu, asal mula terjadinya sesuatu, alasan mengapa suatu hal dapat terjadi pada saat itu, alasan mengapa orang orang kini melakukan suatu rutinitas, apa yang pernah terjadi di suatu tempat, dan yang paling penting; tahu perjuangan orang orang yang dulu berjuang untuk Indonesia, dan menghormatinya.

Dari hal hal yang dapat saya ketahui tersebut, saya dapat mengambil pelajaran berharga dari situ. Seperti mendapat motivasi dari pahlawan pahlawan yang selalu semangat dalam memerjuangkan Indonesia dan dapat menghindari terjadinya suatu kesalahan yang sama seperti di masa lalu.